Tim nasional sepak bola Indonesi
 |
| Pelatih |
Alfred Riedl |
| Asisten Pelatih |
Wolfgang Pikal
Widodo Cahyono Putro |
| Kapten |
Boaz Solossa |
| Penampilan terbanyak |
Bambang Pamungkas (85) |
| Pencetak gol terbanyak |
Bambang Pamungkas (37) |
| Kode FIFA |
IDN |
| Peringkat FIFA |
161 ▬ 0 |
| Peringkat FIFA tertinggi |
75 (September 1998) |
| Peringkat FIFA terendah |
170 (Oktober 2012) |
| Peringkat Elo |
143 |
| Peringkat Elo tertinggi |
35 (November 1969) |
| Peringkat Elo terendah |
155 (4 Desember 1995) |
|
|
|
| Pertandingan internasional pertama |
Hindia-Belanda 1–0 Singapura 
(Batavia, Hindia Belanda; 28 Maret 1921)[1]
India 3-0 Indonesia 
(New Delhi, India; 4 Maret 1951)[2] |
| Kemenangan terbesar |
Indonesia 12–0 Filipina 
(Seoul, Korea Selatan; 22 September 1972)
Indonesia 13–1 Filipina 
(Jakarta, Indonesia; 23 Desember 2002) |
| Kekalahan terbesar |
Bahrain 10–0 Indonesia 
(Riffa, Bahrain, 29 Februari 2012) |
| Piala Dunia |
| Penampilan |
1 (pertama kali pada 1938) |
| Hasil terbaik |
Babak 1 (1938, sebagai Hindia-Belanda) |
| Piala Asia |
| Penampilan |
4 (pertama kali pada 1996) |
| Hasil terbaik |
Babak 1 (1996, 2000, 2004, 2007) |
Tim nasional sepak bola Indonesia mewakili
Indonesia di
sepak bola internasional. Tim ini dikontrol oleh
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia dan merupakan anggota dari
Konfederasi Sepak Bola Asia. Sebelum kemerdekaan pada 1945, tim ini menggunakan nama
tim nasional sepak bola Hindia Belanda. Dengan nama itulah, tim ini bermain di
Piala Dunia FIFA 1938 di
Perancis, dimana mereka kalah dari
Hongaria di babak pertama dan tak pernah lagi lolos setelahnya.
Sejarah
Pada tahun 1930-an, di
Indonesia berdiri tiga organisasi sepak bola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (
NIVB) yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (
NIVU) pada tahun
1936 milik bangsa
Belanda,
Hwa Nan Voetbal Bond (
HNVB) milik seseorang yang berketurunan
Tionghoa, dan
Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia milik bumiputra.
Nederlandsch Indische Voetbal Bond (
NIVB) sebuah organisasi sepak bola orang-orang
Belanda di
Hindia Belanda menaruh hormat kepada PSSI lantaran
SIVB yang memakai bintang-bintang dari
NIVB kalah dengan skor 2-1 melawan
VIJ.
NIVU yang semula memandang sebelah mata
PSSI akhirnya mengajak bekerjasama. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan
Gentlemen’s Agreement pada 15 Januari 1937. Pascapersetujuan perjanjian ini, berarti secara
de facto dan
de jure Belanda mengakui
PSSI. Perjanjian itu juga menegaskan bahwa
PSSI dan
NIVU menjadi pucuk organisasi
sepak bola di
Hindia Belanda. Salah satu butir di dalam perjanjian itu juga berisi soal tim untuk dikirim ke
Piala Dunia, dimana dilakukan pertandingan antara tim bentukan
NIVU melawan tim bentukan
PSSI sebelum diberangkatkan ke
Piala Dunia (semacam seleksi tim). Tapi
NIVU melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya.
NIVU melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan muka, sebab
PSSI pada masa itu memiliki tim yang kuat. Dalam pertandingan internasional,
PSSI membuktikannya. Pada
7 Agustus 1937 tim yang beranggotakan, di antaranya
Maladi,
Djawad,
Moestaram,
Sardjan, berhasil menahan imbang 2-2 tim
Nan Hwa dari
Cina di
Gelanggang Union,
Semarang. Padahal
Nan Hwa pernah menyikat kesebelasan
Belanda dengan skor 4-0. Dari sini kedigdayaan tim
PSSI mulai kesohor.
Atas tindakan sepihak dari
NIVU ini,
Soeratin Sosrosoegondo, ketua
PSSI yang juga aktivis gerakan nasionalisme
Indonesia,sangat geram. Ia menolak memakai nama
NIVU. Alasannnya, kalau
NIVU diberikan hak, maka komposisi materi pemain akan dipenuhi orang-orang
Belanda. Tapi
FIFA mengakui
NIVU sebagai perwakilan dari
Hindia Belanda. Akhirnya
PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian Gentlemen’s Agreement saat Kongres di
Solo pada
1938.
Maka sejarah mencatat mereka yang berangkat ke
Piala Dunia Perancis 1938 mayoritas orang
Belanda. Mereka yang terpilih untuk berlaga di
Perancis,
yaitu Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac
Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack
Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan, dan
Achmad Nawir (kapten). Mereka diasuh oleh pelatih sekaligus ketua
NIVU,
Johannes Mastenbroek. Mo Heng, Nawir, Soedarmadji adalah pemain-pemain pribumi yang berhasil memperkuat kesebelasan
Hindia Belanda, tetapi bertanding di bawah bendera kerajaan Nederland.
[3]
Indonesia pada tahun
1938 (di masa penjajahan
Belanda) sempat lolos dan ikut bertanding di
Piala Dunia 1938. Waktu itu
Tim Indonesia di bawah nama
Dutch East Indies (
Hindia Belanda), peserta dari
Asia yang pertama kali lolos ke
Piala Dunia.
Indonesia tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12. Grup kualifikasi
Asia untuk
Piala Dunia 1938 hanya terdiri dari 2 negara,
Indonesia (
Hindia Belanda) dan
Jepang karena saat itu dunia
sepak bola Asia memang hampir tidak ada. Namun,
Indonesia akhirnya lolos ke final
Piala Dunia 1938 tanpa harus menyepak bola setelah
Jepang mundur dari babak kualifikasi karena sedang berperang dengan
Cina.
Pada waktu itu tim ini menggunakan seragam berwarna oranye dan
bercelana putih seperti warna seragam yang dipakai kesebelasan Belanda.
[4]
Skuat Piala Dunia 1938
Pelatih:
Johannes van Mastenbroek.
Pertandingan melawan Hongaria
Pada 5 Juni 1938, sejarah mencatat pembantaian tim Hungaria terhadap Hindia Belanda. Mereka bermain di
Stadion Velodrome Municipale,
Reims,
Perancis. Sekitar 10.000 penonton hadir menyaksikan pertandingan ini.
Sebelum bertanding, para pemain mendengarkan lagu kebangsaan
masing-masing. Kesebelasan Hindia Belanda mendengarkan lagu kebangsaan
Belanda
Het Wilhelmus.
Karena perbedaan tinggi tubuh yang begitu mencolok, walikota Reims
menyebutnya, "saya seperti melihat 22 atlet Hungaria dikerubungi oleh 11
kurcaci."
Meski strategi tak bisa dibilang buruk, tapi Tim Hindia Belanda tak
dapat berbuat banyak. Pada menit ke-13, jala di gawang Mo Heng bergetar
oleh tembakan penyerang Hongaria Vilmos Kohut. Lalu hujan gol
berlangsung di menit ke-15, 28, dan 35. Babak pertama berakhir 4-0.
Nasib Tim Hindia Belanda tamat pada babak kedua, dengan skor akhir 0-6.
Pada saat itu Piala Dunia memakai sistem knock-out.
Meskipun kalah telak, surat kabar dalam negeri,
Sin Po,
memberikan apresiasinya pada terbitan mereka, edisi 7 Juni 1938 dengan
menampilkan headline: "Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi
Perlawanan Gagah".
[12]
Setelah penampilan perdana itu, Indonesia tidak pernah lagi masuk babak pertama
Piala Dunia FIFA, dengan hasil paling memuaskan adalah Sub Grup III Kualifikasi
Piala Dunia FIFA 1986.
Ketika itu Indonesia hampir lolos ke Piala Dunia 1986 tetapi Indonesia
kalah di partai final kualifikasi melawan Korea Selatan dengan agregat
1-6.
Era 1950
Setelah era
Perang Dunia kedua, pada tahun 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan mereka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah itu,
sepak bola Indonesia mengalami kemajuan di Asia. Mereka berhasil lolos ke
Olimpiade Melbourne 1956. Indonesia berhasil melaju ke perempat final dan bertemu dengan raksasa dunia ketika itu,
Uni Soviet yang ketika itu dikapteni oleh kiper terbaik dunia ketika itu,
Lev Yashin.
Ketika itu mereka berhasil menahan Uni Soviet 0-0. Namun pada akhirnya
Indonesia harus kalah dengan skor 4-0 pada pertandingan kedua. Prestasi
ini adalah prestasi tertinggi Indonesia dalam sejarah sepak bola di
Indonesia.
Pada tahun 1958, Indonesia juga merasakan hasil terbaik di
Kualifikasi Piala Dunia 1958 dimana Indonesia berhasil mengalahkan
China pada ronde pertama. Namun mereka menolak untuk bertanding melawan
Israel
pada ronde kedua dikarenakan alasan politis. Sejak saat itu, Indonesia
tidak pernah ikut dalam kualifikasi piala dunia hingga tahun 1970.
Uniknya, setelah bertanding di kualifikasi piala dunia, Indonesia berhasil meraih medali perunggu di
Asian Games 1958 setelah pada perebutan tempat ketiga berhasil mengalahkan
India 4-1.
Era 1960-1970
Pada era ini, lahirlah pesepak bola Indonesia yang terkenal di Asia antara lain
Soetjipto Soentoro,
Max Timisela,
Jacob Sihasale,
Kadir,
Iswadi Idris,
Andjiek Ali Nurdin, dan
Yudo Hadianto. Diantara mereka yang paling fenomenal adalah
Soetjipto Soentoro. Ia adalah pemain tersukses di Indonesia dengan membawa Indonesia menjadi raja sepak bola
Asia.
Ketika itu Indonesia berhasil menjuarai berbagai turnamen yaitu
Turnamen Merdeka 1961,
1962,
1969,
Piala Emas Agha Khan 1966, dan
Piala Raja 1968. Indonesia juga berhasil meraih medali perak dalam
Asian Games 1966.
Bahkan pemain Indonesia ada yang dipanggil
AFC untuk menjadi bagian dari skuat Asia All Stars pada tahun 1967-1968. Mereka adalah
Soetjipto Soentoro yang bertindak sebagai
penyerang bayangan sekaligus sebagai kapten,
Jacob Sihasale sebagai
penyerang tengah,
Iswadi Idris bertindak sebagai
penyerang sayap kanan, dan
Kadir sebagai penyerang sayap kiri. Ketika itu, mereka adalah kuartet tercepat yang pernah dimiliki Indonesia.
Era 1970-1990an
Era ini merupakan era dimana sepak bola Indonesia masih menjadi negara terkuat di Asia. Indonesia berhasil menjuarai
Piala Pesta Sukan 1972 di
Singapura untuk terakhir kali. Namun Indonesia sempat berjaya ketika mereka berhasil mengalahkan tim asal
Amerika Latin,
Uruguay.
Ketika itu Indonesia berhasil mengalahkan Uruguay dengan skor 2-1.
Beruntung ketika itu, Indonesia memiliki pemain yang bertalenta yang
sangat mumpuni seperti
Ronny Paslah,
Sutan Harhara,
Ronny Pattinasarany,
Risdianto,
Andi Lala,
Anjas Asmara,
Waskito dan pemain bekas angkatan
Soetjipto Soentoro.
Setelah itu sepak bola Indonesia berangsur mengalami penurunan. Terakhir mereka menjuarai
SEA Games 1991 di
Manila,
Filipina. Di kualifikasi
Piala Dunia, prestasi terbaik hanya diraih ketika Indonesia berhasil lolos ke putaran final. Namun harus kandas di tangan
Korea Selatan dengan agregat 1-6.
Di Asian Games, Indonesia berhasil meraih medali perunggu setelah menembus semifinal tetapi kalah dari
Kuwait pada partai perebutan tempat ketiga. Pemain pada masa itu yang terkenal adalah
Ricky Yakobi. Tendangannya volinya yang mengejutkan lawan ketika Indonesia melawan
Uni Emirat Arab dengan jarak yang cukup jauh di luar kotak penalty.
Piala Asia
Di kancah
Piala Asia Indonesia pertama kali tampil di putaran final pada tahun
1996 di
Uni Emirat Arab (UAE). Indonesia berhasil membuat kejutan di pertandingan pertama dengan berhasil menahan imbang
Kuwait 2-2, tetapi akhirnya tersingkir di penyisihan grup setelah kalah 2-4 dari
Korea Selatan dan kalah 0-2 dari tuan rumah
UAE. Indonesia meraih kemenangan pertama pada tahun
2004 di
China setelah menaklukkan
Qatar 2-1. Yang kedua diraih ketika mengalahkan
Bahrain dengan skor yang sama tahun
2007, saat menjadi tuan rumah turnamen bersama
Malaysia,
Thailand, dan
Vietnam.
Piala AFF
Di kancah
Asia Tenggara sekalipun, Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara
Piala AFF
(dulu disebut Piala Tiger) dan hanya menjadi salah satu tim unggulan.
Prestasi tertinggi Indonesia hanyalah tempat kedua pada tahun 2000,
2002, dan 2004, dan 2010 (dan menjadikan Indonesia negara terbanyak
peraih
runner-up dari seluruh negara peserta Piala AFF). Di ajang
SEA Games pun Indonesia jarang meraih medali emas, yang terakhir diraih
tahun 1991.
Kostum
Jersey tim sepakbola Indonesia pada tahun 1981
Kostum tim nasional Indonesia tidak hanya
merah-
putih sebab ada juga putih-putih, biru-putih, dan hijau-putih. Menurut
Bob Hippy, yang ikut memperkuat timnas sejak tahun
1962 hingga
1974, kostum Indonesia dengan warna selain merah-putih itu muncul ketika
PSSI mempersiapkan dua tim untuk
Asian Games IV-
1962,
Jakarta.
Saat itu ada dua tim yang diasuh pelatih asal
Yugoslavia,
Toni Pogacnic, yakni
PSSI Banteng dan
PSSI Garuda. Yang Banteng, yang terdiri dari pemain senior saat itu, seperti
Maulwi Saelan,
Djamiat Dalhar, dan
Tan Liong Houw, selain menggunakan kostum merah-putih juga punya kostum hijau-putih. Sedangkan tim Garuda, yang antara lain diperkuat
Omo,
Anjik Ali Nurdin, dan
Ipong Silalahi juga dilengkapi kostum biru-putih. Tetapi, setelah terungkap kasus suap yang dikenal dengan "
Skandal Senayan", sebelum Asian Games IV-1962, pengurus
PSSI
hanya membuat satu timnas. Itu sebabnya, di Asian Games IV-1962, PSSI
sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa karena kemudian kedua tim itu
dirombak. Selanjutnya digunakan tim campuran di
Asian Games.
Mulyadi (Fan Tek Fong), asisten pelatih klub
UMS, yang memperkuat timnas mulai tahun
1964 hingga
1972, menjelaskan bahwa setelah dari era Asian Games, sepanjang perjalanan timnas hingga tahun
1970-an,
PSSI hanya mengenal kostum merah-putih dan putih-putih. Begitu juga
ketika timnas melakukan perjalanan untuk bertanding di sejumlah negara
di Eropa pada tahun 1965. Saat itu setiap kali bermain, tim nasional
hanya menggunakan merah-putih dan putih-putih dengan gambar Garuda yang
besar di bagian dada hingga ke perut. Seragam hijau-putih kembali
digunakan saat mempersiapkan kesebelasan
pra-Olimpiade 1976, dan kemudian digunakan pada arena
SEA Games 1981 Manila. "Begitu juga ketika Indonesia bermain di Thailand, di mana saat itu Indonesia menjadi runner-up
Piala Raja 1981," kata
Ronny Pattinasarani yang memperkuat
PSSI tahun
1970-
1985.
Di
Piala Asia 2007 yang digelar mulai
8 Juli hingga
Minggu 29 Juli, Nike juga telah mendesain kostum tim nasional
Indonesia,
tetapi kali ini bukan hijau-putih, melainkan putih-hijau. Tentu tetap
dengan detail yang sama, seperti Garuda yang selalu bertengger di dada.
Dan pada kostum Timnas Indonesia terakhir yang dibuat
Nike pada 2010 untuk
Piala Suzuki AFF 2010, motif baru kembali diperkenalkan. Pada kostum ini, terdapat
Burung Garuda
besar yang membentang hampir di seluruh bagian depan kostum yang tidak
berwarna tetapi memiliki garis-garis yang memiliki warna hitam cenderung
abu-abu. Sementara pada kostum kedua yang berwarna
Putih-
Hijau, terdapat motif yang sama, tetapi garis-garis pada burung Garuda berwarna abu-abu muda.
Pertandingan dan hasil
| Tanggal |
Lawan |
Skor |
Tempat |
Ajang |
Pencetak gol
Indonesia |
| 31 Januari |
Yordania |
0–5
|
Stadion Internasional Amman, Amman (A) |
Persahabatan |
|
| 6 Februari |
Irak |
0–1
|
Stadion Al-Rashid, Dubai (A) |
Kualifikasi Piala Asia AFC 2015 |
|
| 23 Maret |
Arab Saudi |
1–2
|
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (H) |
Kualifikasi Piala Asia AFC 2015 |
Solossa 5' |
| 7 Juni |
Belanda |
0–3
|
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (H) |
Persahabatan |
|
| 14 Juli |
Arsenal |
0–7
|
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (H) |
Persahabatan1 |
|
| 20 Juli |
Liverpool |
0–2
|
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (H) |
Persahabatan1 |
|
| 14 Agustus |
Filipina |
2-0
|
Stadion Manahan, Surakarta (H) |
Persahabatan |
Nwokolo 31' Roby 67' |
| 15 Oktober |
Republik Rakyat Cina |
1-1
|
Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta (H) |
Kualifikasi Piala Asia AFC 2015 |
Solossa 67' |
| 1 November |
Kirgizstan |
4-0
|
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (H) |
Persahabatan |
Zulham 27', 37'
Bonai 66'
Jufriyanto 70' |
| 10 November |
April 25 |
0–2
|
|
Persahabatan1 |
|
| 15 November |
Republik Rakyat Cina |
0-1
|
Stadion Provinsi Shaanxi, Xi'an (A) |
Kualifikasi Piala Asia AFC 2015 |
|
| 19 November |
Irak |
0-2
|
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (H) |
Kualifikasi Piala Asia AFC 2015 |
|
- 1 Bukan pertandingan internasional FIFA 'A'
Stadion
Stadion Gelora Bung Karno
Terletak di Jakarta, stadion kandang bagi timnas Indonesia adalah
Gelora Bung Karno yang berkapasitas 88.000 penonton. Stadion ini
merupakan stadion terbesar di Indonesia, stadion terbesar kedua di Asia
Tenggara dan
stadion sepak bola terbesar kesembilan di dunia. Stadion ini dibangun pada tahun 1960 untuk
Asian Games 1962 dan pembangunannya didukung oleh pemerintah
Uni Soviet,
dengan pinjaman lunak sebesar US $ 12,5 juta. Stadion ini selesai
setelah dua tahun dan secara resmi dibuka pada tanggal 24 Agustus 1962.
[13]
Stadion lainnya yang digunakan meliputi:
Rekor turnamen
Rekor penampilan di Piala Dunia FIFA
| Rekor Penampilan di Piala Dunia FIFA |
| Tuan Rumah / Tahun |
Hasil |
Posisi |
M |
S |
K |
GM |
GK |
1930 |
Tidak Ikut |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1934 |
Tidak Ikut |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1938 |
Babak 1 (sebagai Hindia Belanda) |
14 |
0 |
0 |
1 |
0 |
6 |
1950 |
Mengundurkan diri |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1954 |
Tidak Ikut |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1958 |
Mengundurkan diri selama kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1962 |
Mengundurkan diri |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1966 |
Tidak Ikut |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1970 |
Tidak Ikut |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1974 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1978 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1982 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1986 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1990 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1994 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1998 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
2002 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
2006 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
2010 |
Tidak lolos kualifikasi Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
2014 |
Tidak lolos kualifikasi. Asia |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
2018 |
Belum Diselenggarakan |
|
|
|
|
|
|
2022 |
Belum Diselenggarakan |
|
|
|
|
|
|
| Total |
1/19 |
Round 1 |
0 |
0 |
1 |
0 |
6 |
| Sejarah final Piala Dunia FIFA 1938 |
| Tahun |
Babak |
Nilai |
Hasil |
| 1938 |
Babak 1 |
Hindia-Belanda 0 – 6 Hongaria |
Kalah |
Rekor penampilan di Piala Asia AFC
| Tahun |
Hasil |
Poin |
M |
S |
K |
GM |
GK |
1956 |
Tidak ikut |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1960 |
Tidak ikut |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1964 |
Tidak ikut |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1968 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1972 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1976 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1980 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1984 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1988 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1992 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
1996 |
Babak 1 |
3 |
0 |
1 |
2 |
4 |
8 |
2000 |
Babak 1 |
3 |
0 |
1 |
2 |
0 |
7 |
2004 |
Babak 1 |
3 |
1 |
0 |
2 |
3 |
9 |
   2007 |
Babak 1 |
3 |
1 |
0 |
2 |
3 |
4 |
2011 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
2015 |
Tidak lolos kualifikasi |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
| Total |
Best: Round 1
|
12 |
2 |
2 |
8 |
10 |
28 |
Rekor penampilan di Kejuaraan Sepak Bola ASEAN
Kompetisi ini dulu dikenal sebagai Tiger Cup sekarang bernama Piala Suzuki AFF
| Kejuaraan Sepak Bola ASEAN |
| Tahun |
Babak |
Main |
M |
S |
K |
GM |
GK |
1996
|
Juara keempat
|
6
|
3
|
1
|
2
|
18
|
9
|
1998
|
Juara ketiga
|
5
|
2
|
1
|
2
|
15
|
10
|
2000
|
Runner-Up
|
5
|
3
|
0
|
2
|
13
|
10
|
2002
|
Runner-Up
|
6
|
3
|
3
|
0
|
22
|
7
|
2004
|
Runner-Up
|
8
|
4
|
1
|
3
|
24
|
8
|
2007
|
Babak grup
|
3
|
1
|
2
|
0
|
6
|
4
|
2008
|
Semi Final
|
5
|
2
|
0
|
3
|
8
|
5
|
2010
|
Runner-Up
|
7
|
6
|
0
|
1
|
17
|
6
|
2012
|
Babak Grup
|
3
|
1
|
1
|
1
|
3
|
4
|
|
Total
|
Terbaik: Runner-Up
|
48
|
25
|
9
|
14
|
126
|
63
|
|
Pertandingan resmi
Di bawah ini adalah daftar cocok dan terperinci pertandingan Indonesia melawan tim yang diakui FIFA.
[14][15]
Staff Kepelatihan
Staff Kepelatihan Saat ini
Daftar Pelatih Tim Nasional Indonesia
Pemain
Skuat saat ini
Berikut 23 pemain yang dipanggil untuk mengikuti
Kualifikasi Piala Asia AFC 2015 melawan
Arab Saudi pada 5 Maret 2014 di
Stadion Pangeran Abdullah al-Faisal,
Jeddah,
Arab Saudi.
Caps dan gol diperbarui dari 19 November 2013, setelah pertandingan melawan Irak.
Baru dipanggil
Para pemain berikut telah dipilih untuk skuad Indonesia dalam 12 bulan terakhir dan masih tersedia untuk seleksi.
| Pos. |
Nama pemain |
Tanggal lahir (usia) |
Tampil |
Gol |
Klub |
Panggilan terakhir |
| GK |
Choirul Huda |
2 Juni 1979 (umur 34) |
0 |
0 |
Persela Lamongan |
v. Irak, 19 November 2013 |
| GK |
Dian Agus Prasetyo |
3 Agustus 1985 (umur 28) |
3 |
0 |
Mitra Kukar |
v. Irak, 19 November 2013 |
| GK |
Jandia Eka Putra |
14 Juli 1987 (umur 26) |
0 |
0 |
Semen Padang |
v Republik Rakyat Cina, 15 Oktober 2013 |
| GK |
Syamsidar |
15 Juli 1982 (umur 31) |
4 |
0 |
PSM Makassar |
v Arab Saudi, 23 Maret 2013 |
|
| DF |
Supardi Nasir |
9 April 1983 (umur 30) |
15 |
0 |
Persib Bandung |
v. Irak, 19 November 2013 |
| DF |
Benny Wahyudi |
20 Maret 1986 (umur 27) |
12 |
0 |
Arema Cronous |
v. Irak, 19 November 2013 |
| DF |
Fachrudin Aryanto |
19 Februari 1989 (umur 25) |
7 |
0 |
Persepam Madura United |
v. Irak, 19 November 2013 |
| DF |
Ruben Sanadi |
8 Januari 1987 (umur 27) |
6 |
0 |
Persipura Jayapura |
v. Irak, 19 November 2013 |
| DF |
Hasyim Kipuw |
9 Mei 1988 (umur 25) |
4 |
0 |
Persebaya Surabaya |
v. Irak, 19 November 2013 |
| DF |
Ngurah Nanak |
28 Juli 1988 (umur 25) |
0 |
0 |
Persija Jakarta |
v. Irak, 19 November 2013 |
| DF |
Firdaus Ramadhan |
8 Mei 1988 (umur 25) |
0 |
0 |
Sriwijaya |
v Republik Rakyat Cina, 15 Oktober 2013 |
| DF |
Abdul Rahman Sulaiman |
14 Mei 1988 (umur 25) |
1 |
0 |
Persib Bandung |
v Filipina, 14 Agustus 2013 |
| DF |
Ricardo Salampessy |
18 Februari 1984 (umur 30) |
31 |
0 |
Persebaya Surabaya |
v. Belanda, 7 June 2013 |
| DF |
Hengky Ardiles |
20 Mei 1981 (umur 32) |
5 |
0 |
Semen Padang |
v Belanda, 7 June 2013 |
|
| MF |
Tony Sucipto |
12 Februari 1986 (umur 28) |
12 |
1 |
Persib Bandung |
v. Irak, 19 November 2013 |
| MF |
Muhammad Taufiq |
29 November 1986 (umur 27) |
15 |
0 |
Persib Bandung |
v. Irak, 19 November 2013 |
| MF |
Juan Revi |
4 Juni 1986 (umur 27) |
1 |
0 |
Arema Cronous |
v. Irak, 19 November 2013 |
| MF |
Slamet Nurcahyono |
11 Juli 1983 (umur 30) |
4 |
0 |
Persepam Madura United |
v. Irak, 19 November 2013 |
| MF |
Vendry Mofu |
10 September 1989 (umur 24) |
11 |
2 |
Sriwijaya |
v Republik Rakyat Cina, 15 Oktober 2013 |
| MF |
Yustinus Pae |
19 Juni 1983 (umur 30) |
2 |
0 |
Persipura Jayapura |
v Republik Rakyat Cina, 15 Oktober 2013 |
| MF |
Andik Vermansyah |
23 November 1991 (umur 22) |
9 |
1 |
Selangor FA |
v Filipina, 14 Agustus 2013 |
| MF |
Stefano Lilipaly |
10 Januari 1990 (umur 24) |
1 |
0 |
Almere City |
v Filipina, 14 August 2013 |
| MF |
Ian Kabes |
13 Mei 1986 (umur 27) |
5 |
0 |
Persipura Jayapura |
v Belanda, 7 June 2013 |
| MF |
Hendro Siswanto |
12 Maret 1990 (umur 23) |
1 |
0 |
Arema Cronous |
v Belanda, 7 June 2013 |
| MF |
Ponaryo Astaman |
25 November 1979 (umur 34) |
62 |
2 |
PSM Makassar |
v Arab Saudi, 23 March 2013 |
|
| FW |
Boaz Solossa |
16 Maret 1986 (umur 27) |
30 |
8 |
Persipura Jayapura |
v. Irak, 19 November 2013 |
| FW |
Samsul Arif |
14 Januari 1985 (umur 29) |
10 |
0 |
Arema Cronous |
v. Irak, 19 November 2013 |
| FW |
Tantan |
6 Agustus 1982 (umur 31) |
1 |
0 |
Persib Bandung |
v. Irak, 19 November 2013 |
| FW |
Nur Iskandar |
7 Desember 1986 (umur 27) |
3 |
0 |
Semen Padang |
v. Irak, 19 November 2013 |
| FW |
Titus Bonai |
4 Maret 1989 (umur 24) |
8 |
1 |
Persipura Jayapura |
v. Irak, 19 November 2013 |
| FW |
Patrich Wanggai |
27 Juni 1988 (umur 25) |
2 |
1 |
T–Team |
v Filipina, 14 Agustus 2013 |
| FW |
Sergio van Dijk |
6 Agustus 1982 (umur 31) |
2 |
0 |
Sepahan |
v Belanda, 20 Juli 2013 |
| FW |
Irfan Bachdim |
11 Agustus 1988 (umur 25) |
23 |
6 |
Ventforet Kofu |
v Arab Saudi, 23 Maret 2013 |
|
Pemain Terkenal
Penampilan Terbanyak
* Bambang Pamungkas caps (gol) 88 (42) termasuk pertandingan non-FIFA (etc. melawan Klub dan Timnas U-23).
Pencetak gol terbanyak
* Bambang Pamungkas caps (gol) 88 (42) termasuk pertandingan non-FIFA (etc. melawan Klub dan Timnas U-23).
Kapten
Rekor Turnamen
- Partisipasi Terbanyak di Piala Asia: Hendro Kartiko (1996, 2000, 2004), Ismed Sofyan & Bambang Pamungkas (2000, 2004, 2007)
- Penampilan Terbanyak di Piala Asia: Hendro Kartiko (8)
- Partisipasi Terbanyak di Piala AFF: Hendro Kartiko (1998, 2000, 2002, 2004, 2007)
- Penampilan Terbanyak di Piala AFF: Kurniawan Dwi Julianto, Hendro Kartiko, Bambang Pamungkas (21)
- Gol Terbanyak di Piala AFF: Kurniawan Dwi Julianto (13)
Referensi
- ^ Data pertandingan Indonesia di RSSF
- ^ Data pertandingan Indonesia di RSSF
- ^ Mimpi Manis Piala Dunia 1938, Kompasiana.com
- ^ http://javapost.nl/2012/03/23/een-historische-voetbalreis/
- ^ http://javapost.nl/2012/03/23/een-historische-voetbalreis/
- ^ http://rikruca.dk/Lande/Indonesien.htm
- ^ http://javapost.nl/2012/03/23/een-historische-voetbalreis/
- ^ http://rikruca.dk/Lande/Indonesien.htm
- ^ http://rikruca.dk/Lande/Indonesien.htm
- ^ http://rikruca.dk/Lande/Indonesien.htm
- ^ http://javapost.nl/2012/03/23/een-historische-voetbalreis
- ^ Kisah Indonesia di Piala Dunia, Vivanews.com
- ^ "The Bung Karno Sports Complex: Jakarta’s Sports, Conventions and Entertainment Center". Wonderful Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. 2012. Diakses 6 Desember 2012.
- ^ "Fixtures Results". FIFA. Diakses 5 December 2010.
- ^ "Head-to-Head Search". FIFA. Diakses 2 December 2010.